Mata
Kuliah : Sosiolinguistik
Dosen : Prof Dr. Lukman , M.S.i
BAHASA DAN IDENTITAS

OLEH :
KELOMPOK II
RIRIN SABRIADI, S. Pd
NURUL MU’MININ, S. Pd
MUHAMMAD HAMZAH, S. Pd
NURHIKMAH, S. Pd
PROGRAM STUDI
MAGISTER BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa tercurahkan
kepada ALLAH SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga kita masih
diberi kesehatan dan kesempatan untuk
menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “ BAHASA DAN IDENTITAS ”.
Makalah ini merupakan salah satu tugas
kelompok yang diberikan oleh dosen sebagai bahan presentasi diskusi kelompok
dan merupakan lanjutan materi dari mata kuliah SOSIOLINGUISTIK
sebelumnya. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan atas partisipasinya
dan dukungannya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan
terima kasihpula kami hanturkan kepada dosen atas bimbingannya dalam mata kuliah ini.
Makalah ini kami buat
dengan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan kami, kami mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam makalah ini.
Maka dari itu mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak untuk membangun
dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Makassar,
Kelompok II
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar ………………………………………………………………….....ii
Daftar Isi ………………………………………………………………….
..iii
Bab
I Pendahuluan
A. Latar
Belakang …………………………………………………………..............3
B. Rumusan
Masalah ………………………………………………………………3
C. Tujuan dan Manfaat ...........................................................................................3
Bab II Pembahasan
Kajian Pragmatik dalam Linguistik
A. Bahasa
dan Identitas ……………………………………… …………………..3
B. Ragam
bahasa ………………………………………………………....6
Bab III
Penutup
A. Simpulan
…………………………………………………………...….. …10
B. Saran …………………………………………………………………………..10
Daftar
Pustaka …………………………………………………………..11
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengkajian bahasa dapat dilakukan
dengan dua pendekatan, yaitu secara internal dan eksternal. Sosiolinguistik
termasuk pada kajian bahasa secara eksternal karena bidang ini membutuhkan
disiplin ilmu lain, yakni sosiologi, untuk membantu melihat faktor-faktor
di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa oleh penuturnya.
Sosiolinguistik mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat
pemakainya. Holmes (1992) mengatakan bahwa sosiolinguistik berusaha menjelaskan
mengapa kita memakai bahasa yang berbeda pada konteks sosial yang berbeda dan
mengidentifikasi fungsi sosial dari bahasa serta cara yang digunakan untuk
menyampaikan pesan sosial. Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda bunyi yang
disepakati untuk dipergunaan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu
dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Yuwono,
2009:3).
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah
identitas. Identitas terbagi menjadi dua, yaitu identitas personal dan
identitas sosial. Identitas personal menurut William James, dalam Walgito
(2003:97) merupakan skema yang berisi kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai
diri sendiri yang terorganisasi. Konsep ini merupakan penilaian seseorang
terhadap dirinya sendiri dan kemudian akan mempengaruhi perilakunya
sehari-hari. Pembentukan identitas personal dipengaruhi oleh interaksi
dengan orang lain. Identitas sosial adalah pribadi yang terlibat dalam
interaksi sosial (James, dalam Walgito, 2003:98). Dalam hal ini,
seseorang tidak dilihat sebagai satu individu, tetapi merupakan bagaian dari
suatu kelompok sosial tertentu atau disebut juga depersonalisasi.
Identitas seseorang, baik personal maupun sosial, akan sangat mempengaruhi
penggunaan bahasanya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu yang
dimaksud bahasa dan Identitas ?
2. Apa saja
jenis ragam bahasa ?
C. Tujuan
Tujuan dari
penulisan makalah ini yaitu pentingnya Sosiolinguistik dipelajari dalam bidang linguistik
D. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari
makalah ini yaitu :
1.
Bagi mahasiswa khususnya jurusan Bahasa Indonesia,
makalah ini dapat dipakai pedoman dan referensi dalam memahami mata kuliah Sosiolinguistik
2.
Bagi pembaca secara umum, makalah ini dapat digunakan
sebagai penuntun dalam mendalami bahasa sebagai tanda yang berhubungan dengan penggunaannya dalam konteks interaksi
yang terjadi secara alami ( maksud )
BAB I
PEMBAHASAN
A. Bahasa dan Identitas
Pengkajian bahasa dapat dilakukan dengan dua pendekatan,
yaitu secara internal dan eksternal. Sosiolinguistik termasuk pada kajian
bahasa secara eksternal karena bidang ini membutuhkan disiplin ilmu lain, yakni
sosiologi, untuk membantu melihat faktor-faktor di luar bahasa yang
berkaitan dengan pemakaian bahasa oleh penuturnya. Sosiolinguistik
mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakainya. Holmes (1992)
mengatakan bahwa sosiolinguistik berusaha menjelaskan mengapa kita memakai
bahasa yang berbeda pada konteks sosial yang berbeda dan mengidentifikasi
fungsi sosial dari bahasa serta cara yang digunakan untuk menyampaikan pesan
sosial. Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda bunyi yang disepakati untuk
dipergunaan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama,
berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Yuwono, 2009:3).
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah
identitas. Identitas terbagi menjadi dua, yaitu identitas personal dan
identitas sosial. Identitas personal menurut William James, dalam Walgito
(2003:97) merupakan skema yang berisi kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai
diri sendiri yang terorganisasi. Konsep ini merupakan penilaian seseorang
terhadap dirinya sendiri dan kemudian akan mempengaruhi perilakunya
sehari-hari. Pembentukan identitas personal dipengaruhi oleh interaksi
dengan orang lain. Identitas sosial adalah pribadi yang terlibat dalam
interaksi sosial (James, dalam Walgito, 2003:98). Dalam hal ini,
seseorang tidak dilihat sebagai satu individu, tetapi merupakan bagaian dari
suatu kelompok sosial tertentu atau disebut juga depersonalisasi.
Identitas seseorang, baik personal maupun sosial, akan sangat mempengaruhi
penggunaan bahasanya.
Konsep bahasa dan identitas ini berkaitan erat dengan sikap
bahasa. Sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif
berjangka panjang, sebagaian mengenai bahasa, mengenai objek bahasa, yang
memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu
yang disenanginya (Anderson, dalam Chaer, 1995:151). Adapun ciri-ciri
sikap bahasa menurut Garvin dan Mathiot, dalam Chaer (1995) ada tiga, yaitu
kesetiaan bahasa yang mempengaruhi seseorang untuk mempertahankan bahasanya,
kebanggaan bahasa yang mendorong seseorang untuk mengembangkan bahasanya, dan
kesadaran adanya norma bahasa yang mendorong orang untuk menggunakan bahasanya
dengan cermat dan santun.
Sikap bahasa inilah yang digunakan sebagai kacamata untuk
melihat hubungan antara pemakaian bahasa dan identitas. Penyebab utama
adanya perbedaan bahasa adalah kesadaran manusia untuk mempertahankan identitasnya
(Chambers, 2003:274). Penialian identitas dalam penggunaan bahasa dapat dilihat
dari dua arah, yaitu penilaian terhadap diri sendiri dan penialain terhadap
orang lain. Penilaian identitas yang dilakukan terhadap diri erat
kaitannya dengan identitas personal. Bedanya, penilaian ini tidak hanya berlaku
pada satu individu, tetapi bisa juga pada satu kelompok tertentu. Seseorang
atau kelompok akan mempertahankan eksistensinya agar bisa dibedakan dengan
individu atau kelompok yang lainnya. Salah satu cara untuk mempertahankan
eksistensi tersebut adalah dengan menggunakan bahasa. Sebagai contoh, seorang
anak remaja akan membedakan bahasa yang digunakannya dengan bahasa yang
digunakan orang dewasa. Motif mereka melakukan itu bukan semata-mata agar
memperoleh superioritas moral atau intelektual, melainkan untuk melepaskan
dirinya dari ketidakmandirian mereka di bawah peran orang dewasa (Chambers,
2003:275). Bahasa merupakan alat yang paling tepat untuk
mengidentifikasikan diri dari orang lain. Contoh lainnya adalah sikap kaum
intelektual Indonesia pada tahun 1950-an yang menganggap negatif bahasa
Indonesia (Chaer, 1995:151). Pada masa itu, bahasa Belanda dianggap
sebagai bahasa yang lebih baik oleh kaum intelektual karena mereka pernah
menuntut ilmu di sana. Mereka menganggap pemakai bahasa Indonesia adalah
orang-orang yang tidak terpelajar.
Selain itu, ada pula penilaian identitas yang dilakukan
orang lain terhadap satu individu atau kelompok lainnya. Dari cara
seseorang berbahasa, orang lain akan dapat menilai siapa identitas orang
tersebut, baik dari segi usia, jenis kelamin, kelas sosial ekonomi, etnik,
maupun kepribadiannya. Berikut adalah cuplikan kalimat dari dua orang yang
berbeda:
1.
1.
I don’t know, it’s jus’ stuff that really annoys me. And I jus’ like stare at
him and jus’ go … like, “huh”. (YRK98/S014c)
2.
2.
It was sort of just grass steps down and where I dare say it had been flower
beds and goodness-know-what… (YRK/v)
(Taglimonte, 2006:7)
Kutipan pertama Taglimonte bertaruh
bahwa itu adalah ucapan dari seorang remaja perempuan berusia 18 tahun,
sedangkan kutipan yang kedua diucapkan oleh seorang wanita berusia 79
tahun. Penilaian ini sangat bergantung pada budaya dan kebiasaan
masyarakat bahasa setempat. Usia penutur dan bahasa yang digunakan dapat
dibedakan dari nada, kosa kata, pelafalan, dan struktur tata bahasanya (Holmes,
1992:183).
Orang lain juga dapat menilai bahasa
yang digunakan berdasarkan jenis kelamin dan kelas sosial. Di dalam
masyarakat barat, perbedaan penggunaan bahasa pada laki-laki dan
perempuan tidak dapat dipisahkan dari perbedaan kelas sosial mereka berasal
(Holmes, 1993:168). Berikut ini merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Sydney
Community tentang pelafalan glottal pada perempuan dan laki-laki yang
berasal dari kelas menengah dan kelas pekerja di masyarakat Tyneside.
Gambar 1: Glotalisasi huruf [p] yang
dilafalkan oleh perempuan dan laki-laki di Tyneside dari dua kelas sosial yang
berbeda (Fasold, 1990:101).
Bunyi glottal yang diucapkan untuk huruf [p], [t], [k]
pada masyarakat penutur bahasa tersebut merupakan ciri bahasa vernacular
Tyneside yang cenderung banyak digunakan oleh kelompok masyarakat pekerja
(Holmes, 1992:180).
Bahasa juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasikan
kepribadian seseorang. Menurut Litauer, ada empat kepribadian, yaitu
sanguinis, plegmatis, koleris, dan melakonkonis. Misalnya saja ketika
memilih tempat untuk makan malam (ini merupakan hasil observasi dari pengalaman
pribadi penulis melihat bahasa yang digunakan oleh berbagai macam kepribadian
dari teman-teman penulis), kalimat yang diucapkan oleh masing-masing orang yang
memiliki kepribadian tersebut berbeda-beda, orang berkepribadian sanguinis
cenderung akan mengatakan, “Menurutku….” Salah satu ciri orang berkepribadian
sanguinis adalah ingin terlihat menonjol sehingga dari kalimatnya pun sudah
sangat terasa keakuannya. Berbeda dengan orang plegmatis yang tidak ingin
menyakiti orang lain, mereka lebih sering mengatakan, “Terserah, gimana baiknya
aja…” Orang koleris lain lagi, mereka adalah orang yang memiliki jiwa
kepemimpinan yang sangat unggul, untuk tidak menyebutnya otoriter, sehingga
biasanya akan mengatakan, “Kita ke sana aja!”
Sikap bahasa juga akan berpengaruh pada identitas seseorang
dalam pergaulan sehari-hari. Ada orang yang tetap mempertahankan
identitas personalnya ketika bergaul. Ia akan membawa identitasnya
tersebut ke kelompok sosial mana pun yang ia masuki. Orang-orang seperti
ini memiliki motif untuk mempertahankan eksistensinya di tengah pergaulan.
Hal ini bisa pula terjadi karena orang tersebut merasa bisa diterima oleh
kelompok mana pun tanpa mengubah identitasnya sehingga ia tidak memiliki alasan
yang kuat untuk mengubahnya atau bisa juga karena faktor kebiasaan. Di
sisi lain, ada orang yang ingin melebur pada suatu kelompok sosial tertentu
dalam pergaulan sehingga ia menyamakan dirinya dengan kelompok tersebut agar
bisa diterima. Contoh fenomena ini adalah penggunaan kata sapaan di
kalangan mahasiswa di Jakarta. Ada orang-orang yang tetap menggunakan
kata sapaan “aku”, “kamu”, terlepas ia berasal dari daerah atau tidak, di
tengah-tengah pergaulan yang akrab dengan kata sapaan “gue”, “lo”.
Berlawanan dengan itu, ada mahasiswa yang tadinya tidak biasa menggunakan kata
“gue”, “lo”—biasanya mahasiswa daerah—mengganti kata sapaan yang mereka gunakan
agar terasa lebih akrab dalam pergaulan dan bisa diterima oleh kalangan
mayoritas yang menggunakan kata sapaan tersebut.
Trask (1999) memberikan contoh penggunaan bahasa pergaulan
seorang tukang ledeng di London. Ia dan teman-teman sesame tukang ledeng,
biasanya menggunakan bahasa Inggris ‘Cockney’—bahasa yang digunakan oleh
kalangan pekerjadi daerah terebut. Apa yang kemudian terjadi jika tukang ledeng
itu merasa tidak puas akan bahasa yang digunakannya dan ia ingin mengubah
bahasanya dengan menggunakan bahasa Inggris yang digunakan oleh masyarakat
menengah yang dinilai lebih baik. Dalam beberapa detik, teman-teman dan
keluarganya akan mnyadari usaha tukang ledeng tersebut untuk mengubah bahasanya
dan mereka akan merasa terganggu akan hal tersebut. Mengapa demikian?
Karena tukang ledeng itu sudah tinggal bersama keluarga dan teman-temannya
dalam waktu yang lama sehingga mereka sudah mengidentifikasikan diri sebagai
satu kelompok yang sama yang menggunakan bahasa yang sama. Namun, jika
tukang ledeng itu mengubah caranya berbahasa, ia sudah mendeklarasikan dirinya
keluar dari kelompok masyaraat bahasa tersebut.
Kesadaran identitas yang
mengakibatkan perbedaan penggunaan bahasa ini memberikan dinamika dan warna
pada masyarakat bahasa sehingga individu atau kelompok yang satu dapat
dibedakan dengan individu atau kelompok yang lain. Perbedaan ini ada yang
bersifat vertikal dan horizontal. Perbedaan yang bersifat vertikal, yaitu
membentuk strata dari atas ke bawah, biasanya terjadi karena ada motif
memurnikan kelompok dari kelompok lain. Sebagai contoh, dalam stata Hindu, kaum
Brahmana sangat mengeksklusifkan kelompok mereka agar kebanggaan dan kehormatan
kaumnya tetap terjaga dan tidak tercampur dengan kelompok lain di luar
kaumnya. Kaum Brahmana memahami dengan baik naskah Devanagari
dibandingkan dengan kaum non-Brahmana. Naskah tersebut mereka dapatkan
bukan dari literatur Marathi (bahasa yang digunakan di India), melainkan dari
kitab suci berbahasa Sansekerta yang hanya bisa dibaca oleh kaum
Brahaman. Tentu hal ini akan mengakibatkan perbedaan penggunaan bahasa
antara Brahmana dan non-Brahmana (Strauss, 1979:371). Chamber (2003) mengatakan
bahwa perbedaan seperti ini akan terus bertahan karena didorong oleh masyarakat
kelas atas yang melabel diri mereka sebagai penempat posisi teratas dalam suatu
hierarki sosial. Padahal di sisi lain, ada kelompok yang ingin berusaha
masuk ke dalam kelas atas tersebut, seperti halnya kaum non-Brahmana yang
berusaha ingin menjadi sama seperti Brahmana yang memiliki berbagai
keistimewaan. Faktor lain yang dapat menyebabkan perbedaan secara
vertikal adalah faktor ekonomi.
Perbedaan dari penggunaan bahasa
akibat identitas dalam masyarakat juga bisa terjadi secara horizontal. Tidak
ada hierarki yang terbentuk, hanya sekadar membedakan satu kelompok dengan
kelompok yang lain secara sejajar, tidak ada satu lebih tinggi di anatara yang
lain. Perbedaan horizontal ini terjadi karena faktor usia, jenis kelamin,
etnik, kepribadian, dan lain-lain.
Beberapa contoh penelitian yang
sudah dilakukan berkaitan dengan penggunaan bahasa dan identitas adalah sebagai
berikut:
- “Fenomena Bahasa Gaul sebagai Bahasa Komunitas pada Kalangan Gay di Kota Bandung”, penelitian ini dilakukan pada tahun 2007 oleh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Dalam penelitiannya, mereka menelusuri bahasa verbal yang digunakan oleh kalangan gay sebagai komunikasi untuk mengidentifikasikan kelompok mereka.
- “Bahasa Using: Sebuah Eksistensi Bahasa di Ujung Timur Pulau Jawa”. Penelitian ini memperlihatan memperlihatkan bagaimana eksistensi dan perubahan yang terjadi dalam Bahasa Using terkait dengan hubungannnya dengan Bahasa Jawa dan Bahasa Bali melalui pendekatan teori sosiolinguistik. Bahasa Using adalah suatu bahasa yang penutur aslinya terdapat di bagian tengah kebupaten Banyuwangi Jawa Timur yang tidak hanya bertahan dari pengaruh bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tetapi juga dari bahasa Jawa Mataraman yang biasa digunakan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahasa ini memiliki keunikannya sendiri jika dibandingkan dengan bahasa Jawa atau bahasa Bali yang posisinya mengapit Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa.
- “Bahasa dan Identitas Sosial: Kajian Tingkat Tutur Bahasa Bima”. Penelitian ini dilakukan oleh Syamsinas Jafar dari Universitas Mataram. Hasil penelitiannya diterbitkan di Departemen Pendidikan Mataram. Ini adalah penelitian yang menerangkan tingkatan tutur bahasa yang digunakan dalam bahasa Bima.
- “Bahasa Bali Sebagai Simbol Identitas Manusia Bali”. I Made Suastra, Universitas Udayana. Penelitian ini menerangkan tentang penggunaan bahasa Bali yang masih digunakan sebanyak 95% di Bali sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
- “Tinjauan Sosiolinguistik Bahasa Alay dalam Konstelasi Kebahasaan Saat Ini” oleh Andri Wicaksono, UNS. Hasil penelitiannya adalah mengenai bahasa alay yang merusak bahasa dan membuat perubahan identitas itu melahirkan generasi yang berani bersikap dan asosial atau individualis..
B.
Pengertian Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa
menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut
hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium
pembicara. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik ,
yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan
teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat
menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam
bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9),
bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok,
yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti
di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.
Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita
tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
B. Macam –
macam ragam bahasa
1. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
Di
dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula
kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut sebagai kosa kata
baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa Indonesia, memiliki ciri
kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan
kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi
didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan
di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian,
tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian
ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang
bersangkutan.
Suatu ragam
bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan
untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan
bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah
tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan
(situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968;
Spradley, 1980). Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua
yaitu :
a) Ragam bahasa lisan
Adalah ragam bahasa yang diungkapkan
melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan
dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi
pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian,
ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan
unsur-unsur di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat
tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi
pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan
secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah
kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai.
Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut
sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan
dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya
tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk
tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.
Ciri-ciri ragam lisan :
1 - Memerlukan
orang kedua/teman bicara;
2 - Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
-Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
- Berlangsung cepat;
- Sering dapat
berlangsung tanpa alat bantu;
- Kesalahan dapat langsung
dikoreksi;
-Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
Yang termasuk dalam ragam lisan diantaranya pidato,
ceramah, sambutan, berbincang-bincang, dan masih banyak lagi. Semua itu sering
digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, terutama ngobrol atau
berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara
penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.
b) Ragam
bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan
dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya.[1] Dalam ragam tulis, kita
berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan
kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya
kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat,
ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca
dalam mengungkapkan ide.
Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya
ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan
bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya
ilmiah.
Ciri Ragam Bahasa Tulis :
1 -Tidak
memerlukan kehadiran orang lain.
2 - Tidak
terikat ruang dan waktu
3. Kosa kata yang digunakan
dipilih secara cermat
4. Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
5. Kalimat dibentuk
dengan struktur yang lengkap, dan
6. Paragraf dikembangkan
secara lengkap dan padu.
7. Berlangsung lambat
8. Memerlukan alat bantu
2. Ragam Bahasa
Berdasarkan Penutur
a.
Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/diolek)
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan
pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di
Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali,
Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda.
Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan “b”
pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung,
Banyuwangi, dan lain-lain. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada
pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
b. Ragam Bahasa berdasarkan Pendidikan Penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur
yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam
pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah,
kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan
mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas.
Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya
membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun
sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
c.
Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur
terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika
dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan
bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap
tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas
ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan
bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa
baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin
tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat
keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku dipakai dalam :
1.
Pembicaraan di muka
umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan
kuliah/pelajaran.
2.
Pembicaraan dengan
orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
3.
Komunikasi resmi,
misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang.
4.
Wacana teknis,
misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.
3. Ragam Bahasa menurut
Pokok Pesoalan atau Bidang Pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan
yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita
pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam
lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan
kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik,
berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah
raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan
atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.[1]
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan
sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang
tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam
bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran.
Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni.
Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang
dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam
sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran atau
majalah dan lain-lain.
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa
menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut
hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium
pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku
tulis. Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah
Disempurnakan (EYD), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga
negara Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik
serta bertutur kata sopan sebagaimana pedoman yang ada.
B.
Saran
Sebagai warga negara Indonesia,
sudah seharusnya kita semua mempelajari ragam bahasa yang kita miliki, kemudian
mempelajari dan mengambil hal-hal yang baik, yang dapat kita amalkan dan kita
pakai untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar
Pustaka
Alwi, Hasan, dkk. 1998. Tata Baku
Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.
Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer,
Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Chambers, J.K. Sociolinguistic Theory. 2003. Oxford: Blackwell Publishing.
Chambers, J.K. Sociolinguistic Theory. 2003. Oxford: Blackwell Publishing.
Effendi, S. 1995.
Panduan Berbahasa Indonesia Dengan Baik
dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya.
Fassold,
Ralph. Sosiolinguistic of Society. 1990. Oxford: Blackwell Publishing.
Holmes, Janet. An Introduction To
Sociolinguistics. 1999. London: Longmann.
Littauer, Florence. Personality
Plus. 1996. Jakarta : Binarupa Aksara
Strauss, Claude Levi. ed. Sol Tax. Language
and Society. 1979. New York: Mouton Publisher.
Tagliamonte, Sali A. Analyzing
Sociolinguistic Variation. 2006. New York: Cmabridge University Press.
Trask, R.L. Key Concept in
Language and Linguistic. 1999. London: Routledge.
Yuwono, Untung, dkk. Pesona
Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. 2009. Jakarta:Gramedia Pustaka
Utama.
Walgito, Bimo. Pengantar
Psikologi Umum. 2003.Yogyakarta:Andi Offset.
Sabariyanto, Dirgo.1999. Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam
Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
