PELAJAR BELAWA

baru

Minggu, 13 Oktober 2013

Mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing

Menurut pengamatan dan pengalaman saya selama mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing, tidak dapat dikatakan bahwa cerita tradisi lisan dalam pengajaran bahasa Indonesia hanyalah sebagai pelengkap saja. Semua komponen pengajaran bahasa Indonesia termasuk tata bahasa dan cerita tradisi lisan sama pentingnya. Pembelajar di Universitas Melbourne merasa terdorong untuk lebih memperhatikan cerita tradisi lisan, terutama bagi mereka-mereka yang menjadi guru sekolah di kemudian hari.
Bahasa Tetanggaku-Coursebook 2 (White, 1989) dan Kenalilah Indonesia 2 (Hibbs, 1998) yang banyak dipakai untuk siswa sekolah menggunakan cerita tradisi lisan dalam buku mereka. Hanya sayangnya, mereka menggunakan bahasa Inggris, sehingga tidak ada aktivitas yang dapat digunakan untuk memperluas pengetahuan bahasa Indonesia siswa. Sebenarnya, akan lebih baik lagi jika cerita tradisi lisan diajarkan di tingkat pemula untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Cerita folklor rakyat atau tradisi lisan mencerminkan kebudayaan Indonesia, sehingga tidaklah lengkap jika mempelajari kebudayaan suatu tempat tanpa menggunakan cerita tradisi lisan.
Salah satu contoh buku yang memuat cerita rakyat dalam bahasa Indonesia adalah Suara Siswa Stage 3 dan 4, yang membawakan cerita Nenek Luhu dari daerah Maluku. Hardie et.al dalam buku Bersama-sama 2, membawakan 3 cerita tradisi lisan dari Indonesia yang masing-masing mencerminkan kebudayaan daerahnya dengan ilustrasi yang menarik dan bahasa Indonesianya disederhanakan agar dapat dimengerti oleh siswa sekolah. Untuk aktivitas kelas, dalam buku ini, disajikan sebuah cerita lagi, yaitu “Seekor Kura-kura dan Dua Ekor Ayam” yang memungkinkan siswa menggunakan kata-kata yang sudah mereka pelajari dalam berbicara maupun menulis. Buku-buku semacam inilah yang perlu diperbanyak dalam tingkat pengajaran pemula agar dapat dikembangkan di tingkat universitas

Tidak ada komentar: