Menurut pengamatan dan pengalaman saya selama
mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing, tidak dapat dikatakan bahwa
cerita tradisi lisan dalam pengajaran bahasa Indonesia hanyalah sebagai
pelengkap saja. Semua komponen pengajaran bahasa Indonesia termasuk tata bahasa
dan cerita tradisi lisan sama pentingnya. Pembelajar di Universitas Melbourne
merasa terdorong untuk lebih memperhatikan cerita tradisi lisan, terutama bagi
mereka-mereka yang menjadi guru sekolah di kemudian hari.
Bahasa
Tetanggaku-Coursebook 2
(White, 1989) dan Kenalilah Indonesia 2
(Hibbs, 1998) yang banyak dipakai untuk siswa sekolah menggunakan cerita
tradisi lisan dalam buku mereka. Hanya sayangnya, mereka menggunakan bahasa
Inggris, sehingga tidak ada aktivitas yang dapat digunakan untuk memperluas
pengetahuan bahasa Indonesia siswa. Sebenarnya, akan lebih baik lagi jika
cerita tradisi lisan diajarkan di tingkat pemula untuk memperkenalkan
kebudayaan Indonesia. Cerita folklor rakyat atau tradisi lisan mencerminkan
kebudayaan Indonesia, sehingga tidaklah lengkap jika mempelajari kebudayaan
suatu tempat tanpa menggunakan cerita tradisi lisan.
Salah satu contoh buku
yang memuat cerita rakyat dalam bahasa Indonesia adalah Suara Siswa Stage 3 dan 4, yang membawakan cerita Nenek Luhu dari daerah Maluku. Hardie
et.al dalam buku Bersama-sama 2,
membawakan 3 cerita tradisi lisan dari Indonesia yang masing-masing
mencerminkan kebudayaan daerahnya dengan ilustrasi yang menarik dan bahasa
Indonesianya disederhanakan agar dapat dimengerti oleh siswa sekolah. Untuk
aktivitas kelas, dalam buku ini, disajikan sebuah cerita lagi, yaitu “Seekor
Kura-kura dan Dua Ekor Ayam” yang memungkinkan siswa menggunakan kata-kata yang
sudah mereka pelajari dalam berbicara maupun menulis. Buku-buku semacam inilah
yang perlu diperbanyak dalam tingkat pengajaran pemula agar dapat dikembangkan
di tingkat universitas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar