MAKALAH
TEORI
DAN PENGAJARAN PUISI
![]() |
Disusun
oleh :
NURHIKMAH, S.Pd
NURUL
MU’MININ, S.Pd
MAGISTER
PENDIDIKAN BAHASA dan SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015-2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur senantiasa tercurahkan kepada ALLAH SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nyalah
sehingga kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“Teori dan Pengajaran Puisi
Makalah ini merupakan salah satu tugas kelompok yang
diberikan oleh dosen sebagai bahan
presentasi diskusi kelompok dan merupakan materi dari mata kuliah Teori Sastra. Sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih
kepada rekan-rekan atas partisipasinya dan
dukungannya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan
terimakasih pula kami
hanturkan kepada dosen atas bimbingan dalam mata kuliah ini Dr. Sitti Aida Azis, M.Pd
Makalah ini kami buat
dengan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan kami, kami mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam makalah ini.
Maka dari itu mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak untuk membangun
dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Makassar 14 September 2015
PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Karya sastra pada dasarnya merupakan ungkapan penulis
terhadap keadaan dan pengalaman hidup yang menggunakan media bahasa sebagai
perantara atau pengungkapan ekspresi. Oleh sebab itu, karya sastra pada
umumnya, berisi tentang permasalahan yang melingkupi dalam kehidupan manusia.
Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan dasar manusia untuk
mengungkapkan eksistensi dirinya.
Karya sastra yang perkembangannya sangat pesat yaitu
puisi. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia sebenarnya telah
bersastra yaitu dengan mantra, doa-doa untuk dewa atau nenek moyang. Hal ini menunjukkan bahwa
peran puisi dalam kehidupan merupakan sesuatu yang dominan dalam menunjukkan
jati diri hidup.
Jika
melihat hakikat dari puisi yaitu salah satu bentuk karya
sastra yang diungkapkan dengan menggunakan bahasa yang padat, mendobrak dan penuh dengan makna. Puisi dibentuk oleh kata-kata yang benar-benar
terpilih, terseleksi dan melalui proses yang ketat. Puisi merupakan hasil ungkapan
perasaan penyair yang dituangkan melalui kata-kata atau bahasa yang sengaja
dipilih penyair untuk mewakili perasaannya. Dalam pengertian ini, maka makna dalam puisi menyatakan sesuatu
secara tak langsung, yaitu mengatakan sesuatu hal dengan arti yang lain atau makna dibalik susunan kata-kata dan
tipografinya.
Sebagai salah satu jenis sastra, puisi
merupakan pernyataan sastra yang paling utama. Segala unsur sastra mengental
dalam puisi. Puisi mengandung karya estetis yang bermakna, mengekspresikan
pemikiran yang membangkitkan perasaan, merangsang panca indra dalam susunan
yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang
diubah dalam wujud yang paling berkesan.
Melalui puisi kita dapat merasakan tawa, tangis, senyum, berfikir, merenung, terharu bahkan emosi
dan marah. Sampai saat ini, puisi selalu mengikat hati dan digemari oleh semua
lapisan masyarakat karena keindahan dan keunikannya. Oleh karena kemajuan
masyarakat dari masa kemasa selalu meningkat, maka corak, sifat dan bentuk puisi
selalu berubah, mengikuti perkembangan konsep estetika yang selalu berubah dan
kemajuan intelektual yang selalu meningkat.
Kondisi pengajaran sastra di sekolah saat ini sangat
memprihatinkan, pengajaran sastra termasuk puisi hanya dipandang sebagai mata
pelajaran yang monoton. Hal ini dikarenakan daya apresiasi sastra hanya
menekankan pada aspek afektif yang berkutat dengan rasa, nurani, nilai-nilai
dan seterusnya. Selain itu, kesulitan dalam memaknai sebuah karya sastra, juga
menjadi masalah yang dominan. Tentunya dibutuhkan sebuah cara atau teknik yang
baru dalam mengajarkan puisi atau sastra. Melalui makalah ini, kami mencoba
untuk membahas tentang hakikat puisi dan beberapa cara atau teknik dalam
pengajaran puisi.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini, yaitu:
1.
Apakah hakikat puisi?
2.
Apa sajakah jenis-jenis
puisi?
3.
Bagaimanakan cara memaknai puisi?
4
Apakah perbedaan puisi lama dan pusi baru
5.
Bagaimanakah pengajaran
puisi?
C.
Tujuan
Tujuan yang akan dicapai dengan adanya makalah ini,
yakni:
1.
Mengetahui hakikat puisi.
2.
Mengetahui jenis-jenis
puisi.
3.
Mengetahui cara memaknai puisi.
4
Mengetahui perbedaan puisi lama dan pusi baru
5.
Mengetahui pengajaran
puisi.
D.
Manfaat
1.
Kehadiran
makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pembelajaran sastra
khususnya pengetahuan tentang puisi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Puisi
1. Pengertian
Puisi
Kata puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu Poeima yang berarti membuat, Poeisis yang berarti pembuatan. Dalam
bahasa Inggis disebut Poem atau Poetry. Puisi diartikan membuat dan
pembuatan karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu
dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana
tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin (2011: 134).
Menurut Hudson (dalam Aminuddin, 2011: 134),
puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media
penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang
menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Ketika kita
membaca suatu puisi sering kali kita merasakan ilusi tentang keindahan, terbawa
dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi,
penciptaan gagasan, maupun suasana-suasana tertentu.
Slametmuljana (dalam Waluyo, 1995: 23),
menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk kesusastraan yang menggunakan
pengulangan suara sebagai ciri khasnya. Pengulangan kata itu menghasilkan rima,
ritma, dan musikalitas. Batasan yang diberikan Slametmuljana tersebut berkaitan
dengan struktur fisik saja. Sedangkan James Reeves, menyatakan bahwa puisi
adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat. Menurut Waluyo (1995:
25), puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan
penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan
bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Coleridge (dalam Pradopo, 2010: 6),
mengemukakan bahwa puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan
terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara
sebaik-baiknya. Sedangkan menurut Carlyle, puisi merupakan pemikiran yang
bersifat musikal. Penyair dalam menciptakan puisi memikirkan bunyi yang merdu
seperti musik dalam puisinya. Pendapat lain dikemukakan oleh Shelley,
mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam
hidup kita. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan
menimbulkan keharuan yang kuat, seperti kebahagiaan, percintaan, bahkan
kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai.
Menurut Pradopo (2010: 7), puisi itu
mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang
imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu
yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan
memberi kesan.
Dari beberapa definisi
yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa puisi adalah
ungkapan hati penyair dari
keseluruhan pengalaman hidup yang menggunakan bahasa yang khas dalam
penyajiannya. Puisi lahir
dari perenungan mendalam dengan menggunakan kolaborasi antara pikiran dan
perasaan sehingga menghasilkan karya yang sarat makna.
2. Unsur Pembentuk Puisi
Menurut Waluyo (1995: 71), hakikat puisi
disebut struktur batin sedangkan metode puisi disebut struktur fisik. Adapun
wujud konkret hakikat puisi adalah pernyataan batin penyair, sedangkan metode
adalah struktur pembangun bentuk kebahasaan puisi.
a)
Struktur Fisik Puisi
Unsur-unsur bentuk atau struktur fisik puisi
dapat diuraikan dalam metode puisi, yakni unsur estetik yang membangun struktur
luar dari puisi. Unsur fisik puisi meliputi: diksi, pengimajian, kata konkret,
bahasa figuratif (majas), verifikasi dan tata wajah puisi (tipografi). Berikut
akan diuraikan unsur-unsur fisik puisi.
1)
Diksi (Pilihan Kata)
Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata
sebab kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi
dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya dan
kedudukan kata dalam keseluruhan puisi. Oleh sebab itu, disamping memilih kata
yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan kata-kata
tersebut. Hendaknya disadari bahwa kata-kata dalam puisi bersifat konotatif
artinya memiliki kemungkinan makna yang lebih dari satu.
2)
Pengimajian
Ada hubugan erat antara diksi, pengimajian dan
kata konkret. Diksi yang terpilih harus menghasilkan pengimajian yang dapat dihayati
melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa. Pengimajian dapat dibatasi
dengan kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman
sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Puisi seolah-olah
mengandung gema suara, benda yang tampak, atau sesuatu yang dapat dirasakan,
diraba, atau disentuh. Oleh karena itu, pengimajian berhubungan erat dengan
diksi dan kata konkret.
Menurut Effendi (dalam Waluyo, 1995: 80),
pengimajian dalam puisi dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk
menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya, sehingga
pembaca tergugah untuk menggunakan mata hati untuk melihat benda-benda, warna,
dengan telinga hati mendengar bunyi-bunyian dan dengan perasaan hati kita
menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna.
Menurut Situmorang (dalam Sugihastuti, 2009: 43), membagi imajinasi menjadi delapan yaitu: Pertama, imajinasi visual yaitu
imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah melihat. Kedua, imajinasi auditory yaitu imajinasi yang menyebabkan pembaca
seolah-olah mendengar. Ketiga,
imajinasi articulatory yaitu imajinasi yang menyebabkan pembaca mendengarkan
bunyi-bunyian dengan artikulasi tertentu pada bagian mulut. Empat, imajinasi olfaktory yaitu
imajinasi penciuman atau pembauan. Lima,
imajinasi gustatory yaitu imajinasi pencicipan, pembaca seolah-olah mencicipi
sesuatu. Enam, imajinasi tactual
yaitu imajinasi rasa kulit atau pembaca seolah-olah mengalami sesuatu di kulit.
Tujuh, imajinasi kinastetik yaitu
imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat
otot-otot tubuh. Delapan, imajinasi
organik yaitu imajinasi badan yang menyebabkan kita merasakan atau melihat
badan lesu, loyo, lemas dan sebagainya.
3)
Kata Konkret
Kata konkret ialah kata-kata yang dapat dilukiskan dengan
tepat, membayangkan dengan jitu akan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair.
Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat,
mendengar atau merasakan apa yang dilukiskan oleh penyair. Dengan demikian
pembaca terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya. Jika imaji pembaca
merupakan akibat dari pengimajian yang diciptakan penyair, maka kata konkret
ini merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian itu. Dengan kata yang
diperkonkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau kejadian
yang dilukiskan oleh penyair.
4)
Bahasa Figuratif (Majas)
Menurut Waluyo (1995: 83), bahasa figuratif
ialah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang
tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Pendapat lain
dikemukakan oleh Pradopo (2010: 62), adanya bahasa kiasan ini menyebabkan puisi
menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup dan terutama
menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan ini mengiaskan atau
mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih
menarik dan hidup. Bahasa kiasan atau majas dibagi menjadi tujuh yaitu:
perbandingan, metafora, perumpamaan epos, personifikasi, metonimi, sinekdoki
dan alegori.
Fungsi dan kedudukan gaya bahasa atau majas dikemukakan oleh Ratna
(2013: 58), puisi merupakan struktur gaya bahasa karena dalam puisi tidak
menampilkan cerita, puisi hanya melukiskan tema, irama, rima dan gaya bahasa
yang melekat. Oleh karena itu, gaya bahasa menjadikan puisi lebih segar,
menarik dan mempunyai kedalaman makna. Hal inilah yang menjadikan pembeda
antara puisi dengan ilmu pengetahuan sebagai manifestasi pikiran yang harus
dikemukakan secara jelas.
5) Versifikasi
Dalam puisi terdapat bunyi yang disebut rima dan ritma.
Rima adalah pengulangan bunyi di dalam baris atau larik puisi, pada akhir baris
puisi atau pada keseluruhan baris atau bait puisi.
Menurut Waluyo, ritma adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk
membentuk musikalitas atau orkestrasi dengan adanya pengulangan bunyi, penyair
juga mempertimbangkan lambang bunyi puisi akan semakin merdu dan indah jika
dibaca. Selanjutnya Slamet Mulyana, menyatakan bahwa ritma merupakan
pertentangan bunyi: tinggi atau rendahnya suara, panjang atau pendek, keras
atau lemah yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk
keindahan. Metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetap, metrum dalam
puisi sulit untuk ditentukan, namun dalam membaca puisi metrum peranannya
sangat penting. Suku kata dalam puisi biasanya diberi tanda, manakah yang
mendapat tekanan keras dan mana yang mendapat tekanan lemah untuk dibacakan.
6) Tipografi
Tipografi merupakan bentuk
atau perwajahan puisi. Hal inilah yang membedakan antara puisi dengan prosa.
Puisi berbentuk bait, larik-larik puisi tidak membangun periodisitet yang
disebut paragraf. Baris puisi tidak harus bermula dari tepi kiri dan berakhir
ke tepi kanan baris. Tepi kiri atau tepi kanan dari halaman yang memuat puisi
belum tentu terpenuhi tulisan dan hal ini tidak berlaku bagi tulisan yang
berbentuk prosa.
b)
Struktur Batin Puisi
Waluyo, menyebut struktur batin dengan istilah
hakikat puisi. Struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan
amanat. Penjelasan struktur tersebut adalah sebagai berikut.
1) Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan
oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam
jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika desakan yang
kuat itu berupa hubungan dengan tuhan maka puisinya bertema ketuhanan.
Macam-macam tema menurut Waluyo yaitu: ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme atau
kebangsaan, kedaulatan rakyat, dan keadilan sosial.
2) Nada dan Suasana
Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca.
Apakah penyair ingin bersikap menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau
bersifat lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sedangkan suasana
adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu akibat psikologis yang
ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca.
3) Perasaan
Dalam menciptakan puisi, perasaan penyair ikut
diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca atau penikmat terhadap
sesuatu hal atau peristiwa yang dirasakan oleh penyair, maka penyair menyajikan
ciptaannya dengan mengemukakan penggambaran sedemikian rupa sehingga penikmat
seakan akan digiring kepada suatu keadaan dengan perasaan tertentu pula.
Perasaan seperti inilah yang disebut dengan rasa atau feeling dalam puisi.
4) Amanat
Amanat adalah hal yang mendorong penyair untuk
menciptakan puisinya. Amanat dapat ditemukan setelah mengetahui tema, perasaan,
nada, dan suasana puisi. Amanat dimaknai sebagai nasehat yang ditangkap oleh
pembaca setelah membaca puisi. Cara pembaca menyimpulkan amanat puisi sangat
berkaitan dengan pandangan pembaca terhadap suatu hal.
3.
Fungsi Pengajaran Puisi
Menurut Damono (2000: 12), fungsi mempelajari puisi yaitu
belajar dari segala macam sejarah yang muncul dalam puisi. Penciptaan sebuah
puisi tentunya mencerminkan kehidupan pada zaman tertentu, dari kebaikan, moral
dan etika yang memberikan dampak positif bagi kehidupan.
Pendapat lain dikemukakan oleh Gani (dalam Ismawati, 2013:
62), tujuan pengajaran puisi adalah membina apresiasi puisi dan mengembangkan
kearifan serta menangkap isyarat-isyarat kehidupan. Cakupan pengajaran
apresiasi puisi sedikitnya mencakup 4 aspek yakni; (1) menunjang keterampilan
berbahasa, (2) meningkatkan pengetahuan budaya, (3) mengembangkan rasa dan
karsa, dan (4) pembentukan watak.
Tahapan dalam mengapresiasi sebuah puisi dikemukakan oleh
Dola (2007: 4), hal pertama yang harus dilakukan dalam apresiasi puisi yaitu
tahap penjelajahan kemudian tahap penafsiran dan tahap pengkreasian. Tahap penjelajahan
dilakukan dengan kegiatan membaca puisi agar dikenal dan dipahami. Tahap
penafsiran yaitu menganalisis unsur-unsur pembangun puisi sampai pada
pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan puisi. Tahap pengkreasian yaitu
mengekspresikan kembali puisi yang dipelajari dalam bentuk lain atau
menciptakan karya sastra sendiri berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki, tahap ini merupakan tingkat apresiasi yang paling tinggi.
B. Jenis-jenis Puisi
Berikut ini adalah jenis-jenis puisi menurut
Waluyo (1995: 135), diantaranya:
1.
Puisi Naratif, Lirik, dan
Deskriptif
Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair
mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau
penjelasan penyair. Puisi-puisi naratif, misalnya epik, romansa, balada, dan
syair (berisi cerita). Puisi lirik mengungkapkan aku lirik atau gagasan
pribadinya. Jenis puisi lirik misalnya elegi, ode, dan serenada. Sedangkan puisi deskriptif penyair bertindak
sebagai pemberi kesan terhadap keadaan atau peristiwa, benda, atau suasana yang
dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi deskriptif misalnya puisi satire, kritik sosial, dan
puisi-puisi impresionistik.
2.
Puisi Kamar dan Puisi
Auditorium
Puisi
kamar adalah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua
pendengar saja di dalam kamar. Puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk
dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang.
3.
Puisi Fisikal, Platonik,
dan Metafisik
Puisi fisikal bersifat realistis artinya
menggambarkan kenyataan yang ada. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan
gagasan. Hal-hal yang dilihat, didengar atau dirasakan merupakan objek
ciptaannya. Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang
bersifat spiritual atau kejiwaan. Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat
filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan tuhan.
4.
Puisi Subjektif dan Puisi
Objektif
Puisi subjektif juga disebut puisi personal,
yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam
diri penyair sendiri. Puisi objektif berarti puisi yang mengungkapkan hal-hal
di luar diri penyair itu sendiri. Puisi objektif disebut juga puisi impersonal.
5.
Puisi Konkret
Puisi konkret yakni puisi yang bersifat
visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut penglihatan (Poems for the eye). Dalam puisi konkret
ini, tanda baca dan huruf-huruf baik huruf besar maupun kecil berpotensi
gambar.
6.
Puisi Diafan, Gelap, dan
Prismatis
Puisi diafan atau puisi polos adalah puisi
yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret, dan bahasa figuratif,
sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi gelap adalah puisi
yang terlalu banyak menggunakan majas dan sukar untuk ditafsirkan. Sedangkan
dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas,
verifikasi, diksi dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak
terlalu mudah untuk menafsirkan maknanya namun tidak terlalu gelap.
7.
Puisi Parnasian dan Puisi
Inspiratif
Pernasian adalah Puisi yang diciptakan dengan
pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan disadari oleh inspirasi karena
adanya mood dalam jiwa penyair. Sedangkan puisi inspiratif diciptakan
berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang
hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat ke dalam puisi.
8.
Stansa
Stansa artinya puisi yang terdiri dari 8
baris. Stansa berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24
baris.
9.
Puisi Demonstrasi dan
Pampflet
Puisi demonstrasi adalah Puisi yang melukiskan
perasaan kelompok bukan perasaan individu. Puisi demonstrasi sering menggunakan
kata-kata yang membakar semangat. Puisi pamflet juga merupakan protes sosial.
Disebut puisi pamflet karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya
mengungkapkan rasa tidak puas kepada keadaan.
10. Alegori
Puisi
yang dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis
alegori yang terkenal ialah parable yang juga disebut dongeng perumpamaan.
C. Makna Dalam Puisi
Dalam
puisi, kata-kata, frasa, dan kalimat mengandung makna tambahan atau makna
konotatif. Bahasa figuratif yang digunakan menyebabkan makna dalam baris-baris
puisi itu tersembunyi dan harus ditafsirkan. Proses mencari makna dalam puisi
merupakan proses pergulatan terus-menerus. Bahasa puisi adalah bahasa figuratif
yang bersusun-susun. Semua kata memiliki kemungkinan makna ganda. Kata yang
nampaknya tidak bermakna diberi makna oleh penyair. Makna kata mungkin diberi
makna baru. Nilai rasa diberi nilai rasa baru. Tidak semua kata, frasa, dan
kalimat bermakna tambahan. Kalau keadaannya demikian, puisi akan menjdi sangat
gelap. Sebaliknya, puisi tidak mungkin tanpa makna tambahan (transparant)
sehingga kehilangan kodrat bahasa puisi.
Rolland
Barthes dalam kupasannya terhadap S/Z menyebutkan adanya lima kode bahasa yang
dapat membantu pembaca memahami makna karya sastra. Kode-kode itu
melatarbelakangi makna karya sastra. Meskipun pandangan itu diterapkan untuk
prosa, namun prinsip-prinsipnya dapat digunakan untuk puisi juga. Lima kode
itu, ialah:
1)
Kode Hermeneutik
(Penafsiran)
Dalam puisi, makna yang
hendak disampaikan tersembunyi, menimbulkan tanda tanya bagi pembaca. Tanda
tanya itu merupakan daya tarik karena pembaca penasaran ingin mengetahui
jawabannya. Misalnya, dalam puisi, “senja dipelabuhan kecil”, pembaca akan
bertanya apa maksud penyair dengan judul itu? Apa makna senja dan apa makna
pelabuhan.
2)
Kode Proairetik (Perbuatan)
Dalam karya sastra
perbuatan atau gerak atau alur pikiran penyair merupakan rentetan yang
membentuk garis linear. Pembaca dapat menelusuri gerak batin dan pikiran
penyair melalui perkembangan pemikiran yang linear itu. Baris demi baris
membentuk bait. Bait pertama dan kedua serta seterusnya merupakan gerak
berkesinambungan. Gagasan yang tersusun merupakan gagasan runtut. Jika
dipelajari dengan seksama, maka kita akan menemukan kesamaan gerak batin
penyair yang sama dalam berbagai puisinya. Ciri khas itu akan nampak karena
seorang penyair mempunyai metode yang hampir sama dalam proses penciptaan
puisi. Sulit kiranya seorang penyair mengubah teknik pengucapan puisi yang
sudah dimilikinya.
3)
Kode Semantik (Sememe)
Makna yang kita tafsirkan
dalam puisi adalah makna konotatif. Bahasa kias banyak kita jumpai. Sebab itu,
menafsirkan puisi berbeda dengan menafsirkan frosa. Menghadapi bentuk puisi,
pembaca sudah harus bersiap-siap untuk memahami bahasanya yang khas.
4)
Kode Simbolik
Kode semantik berhubungan
dengan kode simbolik; hanya kode semantik lebih luas. Kode simbolik lebih
mengarah pada kode bahasa sastra yang mengungkapkan/melambangkan suatu hal
dengan hal lain. Makna lambang banyak kita jumpai dalam puisi. Peristiwa-peristiwa
yang dilukiskan dalam puisi belum tentu bermaksud hanya untuk bercerita, namun
mungkin merupakan lambang suatu kejadian. Bahkan mungkin merupakan lambang
kejadian yang akan datang. Misalnya, nyanyian “semut ireng” (semut hitam) yang
terkenal dalam sastra jawa merupakan lambang kejatuhan kerajaan surakarta.
Secara khusus, kata-kata dan lukisan peristiwa juga penuh dengan
lambang-lambang.
5)
Kode Budaya
Pemahaman suatu bahasa
akan lengkap jika kita memahami kode budaya dari bahasa itu. Banyak kata-kata
dan ungkapan yang sulit dipahami secara tepat dan langsung jika kita tidak
memahami latar balakang kebudayaan dari bahasa itu. Memahami bahasa diperlukan
“cultural understanding” dari pembaca.
Misalnya “Dik Narti” dalam puisi Rendra, sulit diterjemahkan kedalam
bahasa inggris karena dalam sistem budaya bahasa inggris panggilan serupa itu
tidak ada. Demikian pula kata “Jeng” dalam bahasa jawa. Kata Durno, Sengkuni,
Kresno dan sebagainya mewakili suatu konsep makna yang hanya bisa ditelusuri
melalui kode budaya jawa.
Selain kode
bahasa yang dikemukakan oleh Rolland Barthes. Riffaterre juga mengemukakan pendapat tentang makna sebuah puisi.
Menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 2010: 210), ketidaklangsungan pernyataan
puisi disebabkan oleh tiga hal yaitu:
1)
Penggantian Arti (displacing) yaitu
kata-kata kiasan menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan
metonimi, dalam penggantian arti ini suatu kata bisa berarti lain atau makna
lain
2)
Penyimpangan Arti (distorting) yaitu
penyimpangan yang dalam puisi yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense
3)
Penciptaan Arti (creating of meaning) yaitu bila ruang
teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar
dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak ada
artinya, misalnya; simitri, rima, enjembement, atau ekuivalensi-ekuivalensi
makna.
D.
Puisi Lama dan Puisi Baru
Puisi adalah
bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta
ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi
lama dan puisi baru.
a. PUISI LAMA
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu
antara lain :
Jumlah kata dalam 1 baris
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama
1. Ciri-ciri Puisi Lama
Ciri puisi
lama:
a) Merupakan puisi
rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
b) Disampaikan
lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
c) Sangat terikat
oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima
2. Jenis Puisi Lama
Yang termasuk
puisi lama adalah
a) Mantra adalah
ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib
b) Pantun adalah
puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri
dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya
sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak,
muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka
c) Karmina adalah
pantun kilat seperti pantun tetapi pendek
d) Seloka adalah
pantun berkait
e) Gurindam adalah
puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat
f) Syair adalah
puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a,
berisi nasihat atau cerita
g) Talibun
adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris
3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi
Lama
a) Mantra
Assalammu’alaikum putri satulung
besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
b) Pantun
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
c) Karmina
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)
d) Seloka
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
e) Gurindam
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
f) Syair
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
g) Talibun
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
4. Ciri-ciri dari jenis puisi lama
a) Mantra
Ciri-ciri:
Ø Berirama akhir
abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.
Ø Bersifat lisan,
sakti atau magis
Ø Adanya
perulangan
Ø Metafora
merupakan unsur penting
Ø Bersifat
esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
Ø Lebih bebas
dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.
b) Pantun
Ciri – ciri :
Ø Setiap bait terdiri 4 baris
Ø Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
Ø Baris 3 dan 4 merupakan isi
Ø Bersajak a – b – a – b
Ø Setiap baris terdiri dari 8 – 12
suku kata
Ø Berasal dari Melayu (Indonesia)
c) Karmina
Ciri-ciri
karmina
Ø Setiap bait
merupakan bagian dari keseluruhan.
Ø Bersajak aa-aa,
aa-bb
Ø Bersifat epik:
mengisahkan seorang pahlawan.
Ø Tidak memiliki
sampiran, hanya memiliki isi.
Ø Semua baris
diawali huruf capital.
Ø Semua baris
diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
Ø Mengandung dua
hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
d) Seloka
Ciri-ciri
seloka
Ø Ditulis empat
baris memakai bentuk pantun atau syair,
Ø Namun ada
seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
e) Gurindam
Ciri-ciri gurindam
Ø Baris pertama
berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian
Ø baris kedua
berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris
pertama tadi.
f) Syair
Ciri-ciri syair
Ø Terdiri dari 4
baris
Ø Berirama aaaa
Ø Keempat baris
tersebut mengandung arti atau maksud penyair
g) Talibun
Ciri-ciri:
Ø Jumlah barisnya lebih dari empat
baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Ø Jika satu bait berisi enam baris,
susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Ø Jika satu bait berisi delapan baris,
susunannya empat sampiran dan empat isi.
Ø Apabila enam baris sajaknya a – b –
c – a – b – c.
Ø Bila terdiri dari delapan baris,
sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d
b. PUISI BARU
Puisi baru
bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku
kata, maupun rima.
1. Ciri-ciri Puisi Baru
a) Bentuknya rapi, simetris;
b) Mempunyai persajakan akhir (yang
teratur);
c) Banyak mempergunakan pola sajak
pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
d) Sebagian besar puisi empat
seuntai;
e) Tiap-tiap barisnya atas sebuah
gatra (kesatuan sintaksis)
f) Tiap gatranya terdiri atas dua
kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.
2. Jenis-jenis Puisi Baru
Menurut isinya,
puisi dibedakan atas :
a) Balada adalah
puisi berisi kisah/cerita
b) Himne adalah
puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan
c) Ode adalah
puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
d) Epigram adalah
puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
e) Romance adalah
puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
f) Elegi adalah
puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
g) Satire
adalah puisi yang berisi sindiran/kritik
Sedangkan macam-macam puisi baru
dilihat dari bentuknya antara lain:
a) Distikon
b) Terzina
c) Quatrain
d) Quint
e) Sektet
f) Septime
g) Oktaf/Stanza
h) Soneta
3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi
Baru
Contoh jenis puisi menurut isinya :
a) BALADA
Puisi karya Sapardi Djoko Damono
yang berjudul “ Balada Matinya Aeorang Pemberontak”
b) HYMNE
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan nama-Mu dengan cara
sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan
liku
bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan
kaki
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di datam hati.
(Saini S.K)
c) ODE
Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)
d) EPIGRAM
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang
di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun
pasti tergilas.
(Iqbal)
e) ELEGI
Ini kali tidak ada yang mencari
cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga
kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
f) SATIRE
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidad penyair-penyair
salon,
yang bersajak tentang anggur dan
rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa
pendidikan,
termangu-mangu dl kaki dewi
kesenian.
(Rendra)
Contoh jenis puisi dari bentuknya :
a) DISTIKON
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
b) TERZINA
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
c) QUATRAIN
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
d) QUINT
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
e) SEXTET
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
f) SEPTIMA
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
g) STANZA ( OCTAV )
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
h) SONETA
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
4. Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru
v Ciri puisi dari Jenis isinya :
a) Balada
Ciri-ciri balada
Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga)
bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b.
Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait
pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.
b) Hymne
Ciri-ciri hymne
Lagu pujian untuk menghormati
seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di
Dunia Sastra).
Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.
Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.
c) Ode
Ciri-ciri ode
Ciri ode nada dan gayanya sangat
resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat
menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
d) Epigram
Epigramma (Greek); unsur pengajaran;
didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar;
ada teladan.
e) Romance
Romantique (Perancis); keindahan
perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra
f) Elegi
Ciri-ciri elegi
Sajak atau lagu yang mengungkapkan
rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena
kematian/kepergian seseorang.
g) Satire
Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman
tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas
pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc)
v Ciri puisi dari Jenis bentuknya :
a) Distikon
• 2 baris; sajak 2 seuntai
• Distikon (Greek: 2 baris)
• Rima – aa
– bb
• Distikon (Greek: 2 baris)
• Rima – aa
– bb
b) Terzina
Terzina (Itali: 3 irama)
c) Quatrain
• Quatrain (Perancis: 4 baris)
• Pada asalnya ada 4 rangkap
• Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.
• Pada asalnya ada 4 rangkap
• Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.
d) Quint
Pada asalnya, rima Quint adalah
/aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint
(perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima
/aaaaa/
e) Sextet
• sextet (latin: 6 baris)
• Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’
• Rima akhir bebas
• Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’
• Rima akhir bebas
f) Septima
• septime (Latin: 7 baris)
• Rima akhir bebas
• Rima akhir bebas
g) Oktav
• Oktaf (Latin: 8 baris)
• Dikenali sebagai ‘double Quatrain’
• Dikenali sebagai ‘double Quatrain’
h) Soneta
ciri – ciri soneta :
·
Terdiri atas 14 baris
·
Terdiri atas 4 bait, yang terdiri
atas 2 quatrain dan 2 terzina
·
Dua quatrain merupakan sampiran dan
merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
·
Dua terzina merupakan isi dan
merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
·
Bagian sampiran biasanya berupa
gambaran alam
·
Sextet berisi curahan atau jawaban
atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya
subyektif.
·
Peralihan dari octav ke sextet
disebut volta
·
Penambahan baris pada soneta disebut
koda.
·
Jumlah suku kata dalam tiap-tiap
baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
·
Rima akhirnya adalah a – b – b – a,
a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.
E.
Pembelajaran Puisi
Pembelajaran apresiasi puisi tidak lepas dari
kegiatan cipta sastra, menikmati dan mengambil pengalaman atau amanat dari
puisi. Pembelajaran puisi bukanlah sekadar memindahkan pengetahuan guru kepada
anak didik namun juga mengajarkan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam
puisi. Menurut Rahmanto
(dalam Ismawati, 2013: 64), hal terpenting dalam
pengajaran puisi di kelas adalah menjaga agar suasana tetap santai. Jangan
sampai seorang guru atau siswa merasakan awal pelajaran sebagai sesuatu yang
menegangkan atau terlalu kaku. Puisi tidak berbeda dengan bentuk-bentuk sastra
lain yang menyampaikan pesan dengan bantuan kata-kata. Kata-kata itu memang
kadang-kadang mengandung berbagai arti dan disusun dengan pola ketatabahasaan
yang khusus agar lebih indah, padat, dan bermakna dalam. Dalam mengajak para siswa untuk memahami dan
menikmati puisi hendaknya guru tidak terlalu tergesa-gesa membebani para siswa
dengan istilah-istilah teknis seperti gaya bahasa metafora, hiperbola,
personifikasi. Istilah-istilah ini hanya akan dihafalkan dan akan melelahkan
ingatan.
Pembelajaran puisi bertujuan membina apresiasi
puisi dan mengembangkan kearifan menangkap isyarat-isyarat kehidupan. Untuk
dapat menghargai secara wajar pengalaman-pengalaman yang tertuang dalam sebuah
puisi, kita harus mendekati dan menggaulinya secara intensif. Tujuan pengajaran puisi adalah memperoleh pengalaman mengapresiasi puisi,
pengalaman berekspresi dengan puisi, dan memeroleh pengetahuan dan sikap yang
baik terhadap puisi. Dalam perinciannya tentu saja tujuan itu disesuaikan
dengan siswa yang akan belajar puisi. Dengan demikian tujuan yang hendak
dicapai dalam pembelajaran apresiasi puisi ialah:
a)
Peserta didik hendaknya memeroleh kesadaran yang
lebih baik terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan sekitarnya sehingga
mereka bersikap terbuka, rendah hati, peka perasaan dan pikiran kritisnya
terhadap tingkah laku pribadi, orang lain, serta masalah-masalah kehidupan
sekitarnya.
b)
Peserta didik hendaknya memeroleh kesenangan dari
membaca dan mempelajari puisi hingga tumbuh keinginan membaca dan mempelajari
puisi pada waktu senggangnya.
c)
Peserta didik hendaknya memeroleh pengetahuan dan pengertian
dasar tentang puisi hingga tumbuh keinginan memadukannya dengan pengalaman
pribadinya yang diperoleh di sekolah kini dan mendatang.
Pada hakikatnya tujuan pembelajaran puisi
adalah menanamkan rasa peka terhadap karya sastra, sehingga tumbuh rasa bangga,
senang, atau haru. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran sastra khusus
puisi berusaha mengakrabkan peserta didik diberbagai tingkat pendidikan dengan
konvensi-konvensi puisi modern, harus mengembangkan kepekaannya terhadap
konvensi itu, sehingga peserta didik mengenal unsur-unsur dasar yang luas
tersebar dalam puisi modern. Konvensi yasng dimaksud menyangkut latar belakang
lingkungan masyarakat pemakai bahasa dan budaya tertentu, dan keakraban
dibidang ini akan menumbuhkan sikap yang apresiatif.
Sesuai dengan tujuan pengajaran puisi yang
telah di ungkapkan di atas yaitu memperoleh pengalaman mengapresiasi puisi,
pengalaman berekspresi dengan puisi, dan memeroleh pengetahuan dan sikap yang
baik terhadap puisi. Menurut Rusyana (dalam Alfiah, 2009: 84), langkah-langkah pembelajaran yang dapat dilakukan saat
mengajarkan puisi yaitu:
1)
Mempelajari puisi yang
akan dibawakan
Guru hendaknya terlebih dahulu mempelajari
puisi yang akan dibawakan atau diajarkan. Dengan mempelajari puisi yang akan dibawakan
guru akan mempunyai pegangan. Ia memeriksa bagian-bagian mana yang memerlukan
keterangan dan bagian mana yang tidak. Ia akan dapat menentukan aspek manakah
dari puisi yang memerlukan perhatian khusus. Salah satu hal yang sangat penting
adalah menemukan pendekatan dalam puisi, yaitu apakah penyair dalam puisinya
menunjukkan kata-kata kepada seseorang, ataukah kepada kemanusiaan pada
umumnya, apakah puisi menyajikan suatu percakapan dengan orang lain atau suatu
monolog dengan diri sendiri.
2)
Menentukan kegiatan yang
akan dilakukan
Setelah guru mengenali puisi yang akan
dibawakan, ia menentukan kegiatan apa yang akan dilakukannya di dalam kelas.
Guru bisa berpendapat beberapa puisi akan langsung saja dibaca oleh guru dan
siswa, tanpa memberikan keterangan apa-apa. Ada pula puisi yang dianggapnya
memerlukan pengantar sebelum dibawakan. Demikianlah guru menentukan kegiatan
yang akan dilakukan di kelas seperti: guru membacakan puisi dan siswa
mendengarkan, siswa membaca nyaring sendiri atau dalam paduan membaca puisi,
siswa bertukar pengalaman tentang puisi yang mereka baca, siswa dan guru
berdiskusi dll. Kegiatan mengenal puisi dan menentukan apa yang akan dilakukan
adalah kegiatan guru sebelum masuk kelas. Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan
guru dan siswa di dalam kelas.
3)
Memberikan pengantar
pengajaran
Sebelum masuk ke dalam kegiatan pengajaran
puisi, guru memberikan pengantar yang maksudnya menarik perhatian siswa pada
pokok yang akan dipelajari. Caranya bermacam-macam, bergantung pada pengalaman
guru tentang puisi yang akan dibawakan. Pengantar ini hendaknya benar-benar
mengantarkan siswa ke dalam suasana yang diharapkan terjadi pada kegiatan
pengajaran selanjutnya.
4)
Menyajikan bahan
pengajaran
Dalam menyajikan bahan pengajaran terlebih
dahulu guru hendaknya menciptakan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan.
Puisi harus menjadi sumber kenikmatan bagi siswa. Oleh karena itu penyajiannya
pun harus menyenangkan. Puisi itu pada dasarnya untuk didengarkan, oleh karena
itu siswa hendaknya berkenalan dengan puisi secara lisan. Dalam penyampaian
secara lisanlah bunyi, irama dan tekanan dapat ditangkap dan diapresiasi oleh
siswa. Oleh karena itu, guru harus mampu membacakan puisi dengan baik untuk
keperluan menyampaikan puisi kepada siswanya. Akan tetapi guru harus berusaha
agar siswa tidak menjiplak bacaannya itu. Oleh karena itu, siswa hendaknya
dirangsang untuk membaca nyaring sesuai dengan caranya sendiri.
5)
Mendiskusikan puisi yang
telah dibaca
Diskusi dilakukan untuk lebih mendalami puisi
yang telah dibaca, dalam diskusi tentang puisi yang telah dibacakan ditanyakan
misalnya: Siapakah yang bicara dalam puisi itu? Kepada siapa pembicaraan
ditujukan? Bagaimana gambaran keadaannya? Apa yang telah ia perbuat? Apa yang
dipikirkannya? Apa yang ingin diperbuatnya? Apa ia merasa bahagia, ketakutan
atau kesepian? Dengan melakukan diskusi terhadap puisi, siswa akan lebih
mengetahui dan memahami tentang puisi yang telah mereka baca.
6)
Memperdalam pengalaman
Guru berusaha agar siswa memperdalam
pengalaman mereka tentang puisi yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk
membaca puisi dengan nyaring, agar mereka dapat lebih merasakannya. Akan
tetapi, siswa harus terlebih dahulu mempersiapkannya dan melakukan latihan
membaca puisi. Kegiatan membaca puisi dapat dirangsang dengan berbagai cara
misalnya: mengadakan acara pembacaan puisi dan pemberian penghargaan kepada
pembacaan yang menunjukkan penafsiran dan penghayatan yang sesuai dengan isi
puisi yang dibacakan.
Pandangan lain dikemukakan oleh
Ismawati (2013: 68), model yang tepat dalam apresiasi puisi yaitu dengan
melakukan kegiatan yang nyata melalui demonstrasi atau pemodelan. Hal ini dapat
memberikan perspektif dan pemahaman yang sama setiap peserta didik.
1)
Berikan
puisi yang isi atau temanya sesuai dengan mental
age peserta didik
2)
Ajaklah
peserta didik menikmati secara langsung yaitu dengan memahami puisi
3)
Setting-lah suasana
kelas yang santai dan penuh kesyahduan dengan irama musik instrumental
4)
Gunakan
model yang dianggap mahir atau mampu dalam membaca puisi
5)
Berikan
waktu pada peserta didik untuk mengomentari atau menanggapi pembacaan puisi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka
dapat disimpulkan puisi adalah ungkapan hati penyair dari keseluruhan pengalaman hidup yang
menggunakan bahasa yang khas dalam penyajiannya. Puisi lahir dari perenungan mendalam
dengan menggunakan kolaborasi antara pikiran dan perasaan sehingga menghasilkan
karya yang sarat makna.
Unsur pembentuk dalam puisi terbagi menjadi dua unsur yaitu
unsur fisik dan unsur batin puisi. Unsur fisik puisi terdiri dari; diksi,
pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif atau majas, versifikasi dan tata
wajah atau tipografi sedangkan unsur batin puisi terdari dari; tema, perasaan,
nada dan suasana, amanat.
Terdapat beberapa cara untuk mendalami dan memaknai sebuah
puisi, Roland Barthes mengungkapkan lima kode bahasa yaitu; kode hermeneutik,
proairetik, semantik, simbolik dan budaya sedangkan menurut Riffaterre terdapat
tiga cara untuk mendalami puisi yaitu; mengetahui penggantian arti,
penyimpangan arti dan penciptaan arti dari puisi.
Pada dasarnya pembelajaran sastra atau puisi haruslah dengan
model, metode dan teknik yang nyata yaitu dengan melibatkan peserta didik
secara langsung dalam memahami dan mengkaji puisi, dengan begitu siswa dapat
menemukan arti atau amanat dari puisi yang dipelajari.
B. Saran
Penulis menyarankan agar pembaca lebih
memperbanyak lagi referensi-referensi mengenai teori dan pengajaran puisi selain makalah
ini. Ini dikarenakan oleh keterbatasan penulis dalam mencari
referensi-referensi dalam penyusunan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Alfiah.
2009. Pengajaran Puisi Sebuah Penelitian
Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Aminuddin. 2011. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Damono, Sapardi Djoko. 2000. Priyayi Abangan. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Dola, Abdullah. 2007. Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama. Makassar: Badan Penerbit
Universitas Negeri Makassar.
Ismawati, Esti. 2013. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Ombak.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sugihastuti. 2009. Rona
Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta:
Erlangga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar