PELAJAR BELAWA

baru

Rabu, 31 Agustus 2022

CERPEN : KUNANTIKAN DIRIMU DI BATAS WAKTU


 “Sya, gimana pestanya tadi? Rina cantik nggak jadi mempelai?” Ibu membuyarkan lamunanku

“Pestanya ramai Bu, Rina juga terlihat begitu cantik jadi ratu sehari.”

“Rina sekarang udah nikah, kemarin Timi teman SMP kamu baru melahirkan. Kapan kamu nyusul mereka Sya?”

“Tisya belum kepikiran soal itu Bu, lagian saya juga masih kuliah, umur Tisya juga kan masih muda, soal nikah masih jauh masih nomor kesekian dalam prioritas hidup Tisya Bu.”

“Tisya apalagi sih yang kamu cari? Karir kamu sebagai penulis sedang cemerlang, kuliah kamu kan tinggal nunggu sidang. Laki-laki manapun pasti ingin jadi suami kamu, tinggal kamunya saja yang pilih.”

“Entahlah Bu,Tisya merasa belum saatnya saja bagi Tisya untuk menikah.”

Sebagai perempuan Tisya memang bisa dikatakan nyaris sempurna. Cantik dengan Hijabnya, Cerdas dengan segala prestasinya, Karir yang sedang cemerlang, mapan dari segi materi, semua yang didambakan seorang perempuan hampir dimiliki Tisya. Namun kisah cintanya tak sesempurna kehidupan pribadinya, sampai sekarang Tisya masih betah dengan kesendiriannya, walau terkadang perasaan iri melihat teman-temannya telah lebih dulu melepas status lajang menghinggapi hatinya.

Setiap manusia mempunyai cara sendiri dalam mengartikan cinta, begitu pun dengan Tisya. Meski satu persatu temannya sudah mulai mempertanyakan tentang kehidupan asmaranya, tak satu pun dari pertanyaan itu yang membuat hatinya tergugah untuk menjalin hubungan dengan kaum pria. Menurut Tisya akan ada waktu dimana dia akan merasakan indahnya pelaminan, tapi mungkin bukan sekarang.

  “Tisya sampai kapan kamu mau jadi jomblowati? Kamu nggak  takut jadi perawan tua? Sya, kamu cantik, kamu mapan. Laki-laki mana pun pasti mau menjadi pendamping hidup kamu. Tinggal kamu pilih, mau yang pengusaha muda, mau yang profesinya sama kayak kamu, penulis atau laki-laki yang penghasilannya lebih tinggi dari itu, pasti kamu bisa mendapatkannya.”

  “Sampai tuhan membawa seorang pria kerumah dan bersedia menjadi imam saya.dan lagi aku tak bermimpi mempunyai pendamping hidup yang berpenghasilan tinggi atau yang kaya raya”

”Sya, coba deh kamu pikir, kalau kamu punya suami yang tajir, penghasilannya tinggi, hidup kamu bakalan enak apa lagi kalau kamu juga kerja, hidup kamu bakal bahagia dan sejahtera tujuh turunan, percaya deh.”

“Ran, kamu pernah dengarkan orang-orang sering bilang kalau dibalik kesuksesan seorang pria ada seorang perempuan hebat dibelakangnya. Aku ingin menjadi perempuan hebat itu. Dan perempuan hebat itu bukan perempuan yang bisa memikat lelaki kaya raya karena materinya.”

“Hari gini bicara cinta tanpa uang? Tisya buka mata kamu, kamu itu cantik, populer. Jadi kalau cari calon pendamping itu yang sebanding.”

“Rania, Allah Swt  itu adil, termasuk soal jodoh. Lagian popularitas yang aku rasakan sekarang tidak akan bertahan selamanya, cepat atau lambat akan ada waktu dimana tuhan akan mengambil apa yang sudah dia titip dalam hidup aku.’’

“ Terus kalau nanti tuhan membawa seorang pria sebagai jodohmu, pria itu hanya berprofesi sebagai tenaga honorer misalnya, itu yang disebut tuhan adil?”

“Iya, jika saat itu memang ada, mungkin tuhan tengah mengajari ku tentang hakikat cinta sejati, sesuatu yang lahir bukan karena materi yang berlimpah, tapi kesiapan hati untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan, kekuatan hati untuk selalu saling merangkul, kesetiaan hati untuk seiya sejalan walau perbedaan begitu nyata di depan mata.”

   “Ciee yang S1nya hampir selesai, teorinya juga udah mantap abis. Baru tau Saya kalau di jurusan Sastra diajarkan teori cinta.”

     “Ngomong-ngomong launching Novel  kamu kapan Sya?”

     “Insya Allah awal bulan depan sebelum acara wisuda saya, Rania jangan lupa datang yah, Tisya tunggu loh.”

      “Tenang saja aku pasti datang kok.”

Sore itu setelah selesai kuliah Tisya mampir di toko buku yang terletak di salah satu mall,  disela-sela keasyikannya memilih buku, matanya tiba-tiba tertuju pada satu buku yang membuat hatinya tergelitik untuk membaca. Lembar demi lembar buku itu hampir habis dibacanya. Disetiap lembar yang ia baca benar-benar merasuki relung-relung hatinya.  Buku tentang indahnya pernikahan yang kini ada di tangannya pelan-pelan mulai menggugah kesendiriannya.

Isi buku yang tadi dibacanya masih saja menari dalam fikiranya. Hati yang selama ini selalu bungkam tentang cinta kini perlahan mulai terbuka. Tisya memang mengerti sesempurna apa pun seorang perempuan, ia tak akan terlihat sempurna tanpa seorang pendamping. Dan itu diakui Tisya walau pengakuannya itu hanya dia sendiri yang tau.

Sebagai seorang penulis Tisya sudah banyak bercerita tentang cinta, namun ia sendiri tak mampu menulis cerita cinta itu dalam buku kehidupannya, kemampuannya merangkai kata hingga menjadi sebuah kalimat, kalimat menjadi sebuah paragraf, paragraf menjadi sebuah cerita. Tapi tidak dengan lembar-lembar cintanya yang dibiarkan kosong begitu saja tanpa ada seorang pun yang mampun menuliskan perasaannya.

Seperti pena, cinta juga dapat menuliskan kisahnya sendiri walau tinta tak selamanya berwarna bahagia. Itu juga yang coba di mengerti oleh Tisya. Ia bukan menolak cinta namun ia lebih ingin mempersiapkan batinnya jika saja cinta tak sebahagia yang dia kira. Tisya tau kalau tulisannya  diatas kertas masih bisa dan gampang untuk ia hapus, namun tidak dengan apa yang telah tertulis dalam hati. Jika tulisan dalam hati ada yang salah, menghapusnya tidak segampang menghapus tulisan diatas kertas.

“Selamat yang Sya atas launching novelnya!”

“Sama-sama Rania, terima kasih yah sudah mau datang.”

“Oh iya, ngomong-ngomong launching calon pendamping hidup kapan Sya?”

“Tenang saja, akan ada waktunya, tapi belum sekarang.”

“Waktu nggak bisa nunggu loh Sya?”

“Waktu memang nggak bisa nunggu, tapi Allah Swt menciptakan Makhluknya berpasang-pasangan kan, jadi nggak perlu khawatir, Allah nggak pernah ingkar dan lupa dengan janjinya.”

Lewat pena, Tisya meluapkan semua keresahan hatinya. Lewat doa, Tisya memasrahkan takdir cintanya kepada sang pemilik hati.

Dear Calon Imamku....

Aku tidak tau bagaimana bentuk ragamu

Aku juga tidak tau bagaimana bentuk rupamu

Yang aku tau kau adalah seseorang yang telah di persiapkan Allah untukku

Dear Calon Imamku...

Jika hari ini Allah belum berkenang mempertemukan kita

Mungkin dia sedang mengajariku menjadi seperti Fatimah

Yang senatiasa menjaga hati dan kehormatannya

Menanti jodoh mendatangi walinya

Dear Calon Imamku...

Atas restu Allah

Aku menanti dirimu disini, di batas waktu >   FITIYANA MAWARDI

Tidak ada komentar: