“Sya, gimana pestanya tadi? Rina cantik nggak jadi mempelai?” Ibu membuyarkan lamunanku
“Pestanya ramai Bu,
Rina juga terlihat begitu cantik jadi ratu sehari.”
“Rina sekarang udah
nikah, kemarin Timi teman SMP kamu baru melahirkan. Kapan kamu nyusul mereka
Sya?”
“Tisya belum kepikiran
soal itu Bu, lagian saya juga masih kuliah, umur Tisya juga kan masih muda,
soal nikah masih jauh masih nomor kesekian dalam prioritas hidup Tisya Bu.”
“Tisya apalagi sih yang
kamu cari? Karir kamu sebagai penulis sedang cemerlang, kuliah kamu kan tinggal
nunggu sidang. Laki-laki manapun pasti ingin jadi suami kamu, tinggal kamunya
saja yang pilih.”
“Entahlah Bu,Tisya
merasa belum saatnya saja bagi Tisya untuk menikah.”
Sebagai perempuan Tisya
memang bisa dikatakan nyaris sempurna. Cantik dengan Hijabnya, Cerdas dengan
segala prestasinya, Karir yang sedang cemerlang, mapan dari segi materi, semua
yang didambakan seorang perempuan hampir dimiliki Tisya. Namun kisah cintanya
tak sesempurna kehidupan pribadinya, sampai sekarang Tisya masih betah dengan
kesendiriannya, walau terkadang perasaan iri melihat teman-temannya telah lebih
dulu melepas status lajang menghinggapi hatinya.
Setiap manusia
mempunyai cara sendiri dalam mengartikan cinta, begitu pun dengan Tisya. Meski
satu persatu temannya sudah mulai mempertanyakan tentang kehidupan asmaranya,
tak satu pun dari pertanyaan itu yang membuat hatinya tergugah untuk menjalin
hubungan dengan kaum pria. Menurut Tisya akan ada waktu dimana dia akan
merasakan indahnya pelaminan, tapi mungkin bukan sekarang.
“Tisya sampai kapan kamu mau jadi jomblowati?
Kamu nggak takut jadi perawan tua? Sya,
kamu cantik, kamu mapan. Laki-laki mana pun pasti mau menjadi pendamping hidup
kamu. Tinggal kamu pilih, mau yang pengusaha muda, mau yang profesinya sama
kayak kamu, penulis atau laki-laki yang penghasilannya lebih tinggi dari itu,
pasti kamu bisa mendapatkannya.”
“Sampai tuhan membawa seorang pria kerumah
dan bersedia menjadi imam saya.dan lagi aku tak bermimpi mempunyai pendamping
hidup yang berpenghasilan tinggi atau yang kaya raya”
”Sya, coba deh kamu
pikir, kalau kamu punya suami yang tajir, penghasilannya tinggi, hidup kamu
bakalan enak apa lagi kalau kamu juga kerja, hidup kamu bakal bahagia dan
sejahtera tujuh turunan, percaya deh.”
“Ran, kamu pernah
dengarkan orang-orang sering bilang kalau dibalik kesuksesan seorang pria ada seorang perempuan
hebat dibelakangnya. Aku ingin menjadi perempuan hebat itu. Dan perempuan hebat
itu bukan perempuan yang bisa memikat lelaki kaya raya karena materinya.”
“Hari gini bicara cinta
tanpa uang? Tisya buka mata kamu, kamu itu cantik, populer. Jadi kalau cari
calon pendamping itu yang sebanding.”
“Rania, Allah Swt itu adil, termasuk soal jodoh. Lagian
popularitas yang aku rasakan sekarang tidak akan bertahan selamanya, cepat atau
lambat akan ada waktu dimana tuhan akan mengambil apa yang sudah dia titip
dalam hidup aku.’’
“ Terus kalau nanti
tuhan membawa seorang pria sebagai jodohmu, pria itu hanya berprofesi sebagai tenaga
honorer misalnya, itu yang disebut tuhan adil?”
“Iya, jika saat itu
memang ada, mungkin tuhan tengah mengajari ku tentang hakikat cinta sejati,
sesuatu yang lahir bukan karena materi yang berlimpah, tapi kesiapan hati untuk
saling menerima kekurangan dan kelebihan, kekuatan hati untuk selalu saling
merangkul, kesetiaan hati untuk seiya sejalan walau perbedaan begitu nyata di
depan mata.”
“Ciee yang S1nya hampir selesai, teorinya
juga udah mantap abis. Baru tau Saya kalau di jurusan Sastra diajarkan teori
cinta.”
“Ngomong-ngomong launching Novel kamu kapan Sya?”
“Insya Allah awal bulan depan sebelum
acara wisuda saya, Rania jangan lupa datang yah, Tisya tunggu loh.”
“Tenang saja aku pasti datang kok.”
Sore itu setelah
selesai kuliah Tisya mampir di toko buku yang terletak di salah satu mall, disela-sela keasyikannya memilih buku,
matanya tiba-tiba tertuju pada satu buku yang membuat hatinya tergelitik untuk
membaca. Lembar demi lembar buku itu hampir habis dibacanya. Disetiap lembar
yang ia baca benar-benar merasuki relung-relung hatinya. Buku tentang indahnya pernikahan yang kini ada
di tangannya pelan-pelan mulai menggugah kesendiriannya.
Isi buku yang tadi
dibacanya masih saja menari dalam fikiranya. Hati yang selama ini selalu
bungkam tentang cinta kini perlahan mulai terbuka. Tisya memang mengerti
sesempurna apa pun seorang perempuan, ia tak akan terlihat sempurna tanpa
seorang pendamping. Dan itu diakui Tisya walau pengakuannya itu hanya dia sendiri
yang tau.
Sebagai seorang penulis
Tisya sudah banyak bercerita tentang cinta, namun ia sendiri tak mampu menulis
cerita cinta itu dalam buku kehidupannya, kemampuannya merangkai kata hingga
menjadi sebuah kalimat, kalimat menjadi sebuah paragraf, paragraf menjadi
sebuah cerita. Tapi tidak dengan lembar-lembar cintanya yang dibiarkan kosong
begitu saja tanpa ada seorang pun yang mampun menuliskan perasaannya.
Seperti pena, cinta
juga dapat menuliskan kisahnya sendiri walau tinta tak selamanya berwarna bahagia.
Itu juga yang coba di mengerti oleh Tisya. Ia bukan menolak cinta namun ia
lebih ingin mempersiapkan batinnya jika saja cinta tak sebahagia yang dia kira.
Tisya tau kalau tulisannya diatas kertas
masih bisa dan gampang untuk ia hapus, namun tidak dengan apa yang telah
tertulis dalam hati. Jika tulisan dalam hati ada yang salah, menghapusnya tidak
segampang menghapus tulisan diatas kertas.
“Selamat yang Sya atas
launching novelnya!”
“Sama-sama Rania,
terima kasih yah sudah mau datang.”
“Oh iya,
ngomong-ngomong launching calon pendamping hidup kapan Sya?”
“Tenang saja, akan ada
waktunya, tapi belum sekarang.”
“Waktu nggak bisa
nunggu loh Sya?”
“Waktu memang nggak
bisa nunggu, tapi Allah Swt menciptakan Makhluknya berpasang-pasangan kan, jadi
nggak perlu khawatir, Allah nggak pernah ingkar dan lupa dengan janjinya.”
Lewat pena, Tisya meluapkan semua
keresahan hatinya. Lewat doa, Tisya memasrahkan takdir cintanya kepada sang
pemilik hati.
Dear Calon
Imamku....
Aku
tidak tau bagaimana bentuk ragamu
Aku
juga tidak tau bagaimana bentuk rupamu
Yang
aku tau kau adalah seseorang yang telah di persiapkan Allah untukku
Dear
Calon Imamku...
Jika
hari ini Allah belum berkenang mempertemukan kita
Mungkin
dia sedang mengajariku menjadi seperti Fatimah
Yang
senatiasa menjaga hati dan kehormatannya
Menanti
jodoh mendatangi walinya
Dear
Calon Imamku...
Atas
restu Allah
Aku menanti dirimu disini, di batas waktu > FITIYANA MAWARDI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar